Ini beberapa contoh halaman dari buku para pemenang Adikarya untuk kategori Ilustrasi Buku.

1. Ilustrator: Iwan Darmawan
"Jojo Kucing Pakai Apa"/Gramedia Pustaka Utama



2. Ilustrator: Yudianto Rahardjo
"Apakah Kamu Bangau?"/Gramedia Pustaka Utama




3. Ilustrator: Sutarjo
"Dalam Perut Ikan Paus"/Remaja Rosdakarya

Sayangnya buku yang ini sulit dicari. Berikut ini adalah gambar sampul yang sangat kecil dari website Remaja Rosdakarya.

Selamat kepada para penulis dan penerbitnya.

Kategori Buku Anak

  1. Bocah-bocah di Pagar - Yuli Anita Bezari (Dar! Mizan)
  2. Jojo Kucing Tinggal Di Mana? - Koen Setyawan (Gramedia Pustaka Utama)
  3. Jangan Bilang Siapa-siapa - Clara Ng (Gramedia Pustaka Utama)

Kategori Buku Remaja

  1. 100 Jam - Amalia Suryani dan Andryan Suhardi (Gramedia Pustaka Utama)
  2. Guruku Culun Sekali - Galang L. (Femmeline / Grup Syaamil)
  3. Love For Show - Andi Eriawan (Gagas Media)

Ilustrasi Buku Anak:

  1. Jojo Kucing Pakai Apa? - Iwan Darmawan (Gramedia Pustaka Utama)
  2. Apakah Kamu Bangau? - Yudianto Rahardjo (Gramedia Pustaka Utama)
  3. Dalam Perut Ikan Paus - Sutarjo (Remaja Rosdakarya)

Meskipun ini bukan berita yang terlalu baru, berikut ini adalah daftar pemenang penghargaan adikarya IKAPI 2007 yang diumumkan November tadi.

Kategori Cerita Anak
1. Melukis Cinta (Clara Ng) - GPU
2. Si Towet (Ali Muakhir) -DAR! Mizan Balita
3. Jika Aku jadi Kucing (Benny Rhamdani)- DAR! Mizan Balita

Kategori Ilustrasi Anak
1. Sore Super Sibuk (eMTe) - GPU
2. Kisah Rebi dan Mimi (Joko Susilo) - Gema Insani Press
3. Buaya Merah Muda (Stella Ernes) - Bestari Kids

Kategori Cerita Remaja:
1. Oh Achilles (Tasaro) - Syaamil
2. Zauri (Dian K) - Grasindo
3. Murder on The Bridal House (Yanti Soeparno) -- Aditera

Selamat buat para pemenang, dan semoga makin produktif berkarya.

Setahu saya Adikarya IKAPI adalah satu-satunya penghargaan untuk buku anak di Indonesia yang diberikan secara rutin tiap tahun. (Kalau tahu yang lain, mohon infonya ya.) Bagi yang kepingin lebih tahu lebih banyak mengenai penghargaan ini, bisa simak penjelasan Pak Mula Harahap. Selain itu, bagi yang ingin melihat daftar lengkap pemenang selama 1997-2006 bisa lihat di sini.

Nah, yang jadi pertanyaan, mengapa buku-buku yang sudah menang tersebut sangat sulit ditemukan di pasar? Nggak usah jauh-jauh pemenang 5-10 tahun yang lalu, buku yang menang tahun ini pun lumayan sulit dicari, terutama kategori cerita remaja. Jadi, mungkin masalahnya penghargaan ini masih kurang tersosialisasikan, juga mungkin kurang dianggap, oleh para pembeli buku untuk pembaca muda tersebut, dalam hal ini para orang tua, remaja, juga kaum guru/pustakawan, disamping juga gairah terhadap buku anak yang masih sedikit.

Salah satu jenis buku di luar negeri, dilihat dari hasil penjualannya, adalah "midlist". Yaitu jenis buku yang mungkin bukan bestseller, tapi penjualannya stabil selama bertahun-tahun. Biasanya berupa buku-buku yang berkualitas tinggi, pemenang penghargaan, buku sastra, dll yang selalu dicari orang. Kalau di Indonesia mungkin buku yang termasuk kategori ini adalah buku Agatha Christie, yang saya lihat cetak ulang tiap 5-10 tahun sekali. Nah, saya berangan-angan, buku-buku anak kita yang berkualitas di masa mendatang ada yang selalu tersedia selama puluhan tahun.

Saya pernah lihat link ini beberapa waktu lalu, tapi entah mengapa baru sekarang menengok isinya. Dan, wooow... pengen mandang aja terus. Saya orang yang suka gaya tradisional. Kebanyakan ilustrasi buku anak sekarang terlalu banyak mengandalkan penyuntingan digital --nggak tahu apa istilahnya, huhu--. Padahal kalo lebih bervariasi, lebih bagus kan? Selain itu, dengan melihatnya aja, membuat cerita menari-nari di kepala. Itu kan salah satu tanda ilustrasi (fiksi)yang bagus, yaitu tanpa teks, sudah menceritakan sesuatu.

Nah silakan lihat contoh-contoh ilustrasinya di sini. Kalo sudah puas, silakan lihat blog-blog ilustrator lain yang ada di sidebar-nya.

SITUS MASALAH

Judul asli: The Worry Website
Penulis: Jacqueline Wilson
Alih Bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2007, 160 hal
Genre: drama, humor, fiksi umum, 7-14 tahun
Harga: Rp 23.000,00
ISBN: 979-22-3277-X

Jacqueline Wilson biasa menulis cerita anak dengan latar belakang keluarga "single-parent". Kali ini buku terjemahan terbarunya, Situs Masalah, tetap memiliki elemen itu. Tapi yang unik di novel ini adalah tidak memfokuskan pada satu tokoh anak, tapi pada beberapa tokoh anak. Semuanya punya masalah! Atau setidaknya mereka pikir begitu.

  • Holly uring-uringan karena merasa tidak siap mendapat ibu baru (ibu tiri).
  • Greg naksir seorang anak cewek di kelasnya tapi bingung menghadapinya perasaannya itu.
  • Claire sering mimpi buruk, apalagi setelah nonton film seram.
  • William merasa anak paling bodoh di dunia, dan nggak bisa apa-apa.
Anak-anak yang lain di kelas mereka juga punya masalah lain khas anak-anak pra-remaja. Tapi guru kelas mereka, Mr Speed, mempunyai cara yang unik agar mereka berbagi masalah-masalah tersebut, yaitu dengan membuat Situs Masalah. Tiap anak diminta menceritakan masalahnya secara anonim ke dalam situs itu, dan anggota kelas lainnya, juga secara anonim akan menanggapinya. Asiik kan?

Walau terdapat banyak tokoh di buku ini, akan tetapi tidak membingungkan dan terasa campur aduk, karena Jacqueline Wilson memberi tiap anak satu bab. Pada bab tersebut, kehidupan sehari-hari diceritakan dari sudut pandang anak yang bersangkutan. Jadi buku ini seperti cerita pendek yang saling berhubungan, yang tiap ceritanya cuma menyoroti satu murid di kelas Mr Speed.

Keunikan lain yaitu, salah satu bab ini ditulis oleh seorang pemenang sayembara. Ya, Wilson pernah membuka kompetisi untuk anak-anak yang ingin menulis tentang murid Mr Speed yang lain. Dan kata beliau ada lebih dari 15.000 tulisan yang masuk! Mungkin ini termasuk ide yang baik untuk mendekatkan diri dengan pembaca. Wilson menambahkan satu cerita terakhir yang menutup buku dengan bagus dan dengan nada optimis.
Buku ini bagus untuk mengajarkan anak-anak tentang menghadapi masalah, terutama masalah-masalah yang berhadapan dengan jiwa, seperti rasa kecewa, rasa sedih, rasa negatif, rasa bingung. Walaupun bersetting di Inggris, saya rasa semua yang dimuat disini cukup universal untuk dimengerti anak di manapun, termasuk Indonesia.

Satu lagi yang layak disebutkan adalah kebijaksanaan si guru, Pak Speed. Saya kagum atas kecerdikannya dalam membantu murid-muridnya dan kebisaannya untuk dekat dengan anak-anak. Pembaca muda akan tertarik dengan tokoh anak-anaknya, tapi para orang tua dan pengajar mungkin lebih tertarik untuk menengok dan mempelajari tokoh Pak Speed ini.

UI Bookfest

Ayo sempatkan untuk mengajak seluruh keluarga menghadiri UI Bookfest 2007:

Tema Acara:
”Book & Lifestyle”

Waktu & Tempat Acara:
Kamis-Sabtu (15-17 November 2007)
Gedung IX
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia


Kegiatan yang melibatkan anak antara lain Kids Corner (setiap hari di pojok khusus) dan Gelar Dongeng Anak (17 Nov, 8.00-10.00). Dan Mbak Poppy juga akan menjadi moderator pada talkshow "Komunitas Book Lovers" (17 Nov, 13.00-15.00) yang melibatkan panelis dari
- Komunitas Pecinta Pramoedya Ananta Toer (tentatif)
- Eorlingas: The Indonesian Tolkien Society
- Paguyuban Indo Karl May
- Indo Harry Potter mailing list

I'm back!

Saya memutuskan ingin melakukan beberapa perubahan pada blog ini-- dimulai dari perubahan desain tampilan baru-baru ini.

Mulai sekarang Kebun Rahasiaku tidak hanya memuat resensi buku, tapi semua berita yang berkaitan dengan dunia bacaan anak. Mudah-mudahan saya lebih konsisten untuk ke depannya.

MAUKAH KAMU JADI MURID DI ZAMAN VICTORIA?: Pelajaran yang asyik untuk diketahui!
Judul asli: You Wouldn't Want To Be a Victorian Schoolchild!: Lessons you'd rather not learn
Penulis: John Malam
Ilustrator: David Antram
Penerjemah: Nike Sinta Karina
Terbit: Jakarta, Erlangga for Kids, 2003, 32 hal
ISBN 979-781-813-6

Harga: Rp.16.000,00
Jenis: Buku non fiksi anak-anak bergambar

Saya cenderung lebih tertarik pada fiksi, tapi suatu hari tiba-tiba malah menjangkau buku ini karena penasaran dengan judulnya ditambah kovernya menampilkan dua anak zaman Victoria yang sedang dihukum. Dulu waktu remaja, saya pernah dipinjami buku-buku seri Horrible Histories karya Teary Deary (sp?). Buku-buku itu bisa menyajikan sisi dari sejarah dengan menarik, karena penulis menaburinya dengan detil-detil mengejutkan (bagi anak-anak). Nah, buku "MAUKAH KAU JADI MURID DI ZAMAN VICTORIA?" serupa dalam hal ini.

Bagaimana seandainya kamu (pembaca) adalah murid di zaman Victoria? Buku ini menceritakan apa yang akan kamu alami sehari-hari. Dimulai dari sebelum berangkat sekolah, kemudian bel masuk pukul 9, pencatatan kehadiran, dilanjutkan dengan pelajaran-pelajaran. Ada juga bagian mengenai apa yang dilakukan saat istirahat siang, apa hadiah kalau berprestasi, apa hukuman kalau nakal. Terakhir diceritakan apa yang terjadi jika ada penilik sekolah datang, dan bagaimana rekreasi atau pesta sekolah pada akhir tahun sekolah.

Bagian asyiknya adalah membandingkan pengalaman kamu (sebagai pembaca) di zaman tersebut dengan yang dialami di kehidupan sebenarnya di zaman sekarang. Misalnya di zaman itu, ada pemeriksaan kutu sebelum pelajaran dimulai, pemisahan kelas anak laki-laki dan perempuan, serta pelajaran dasar adalah menulis, membaca, dan menghitung. Diberitahukan juga apa permainan yang dulu umum dimainkan, dan yang tidak berubah dari dahulu sampai sekarang adalah adanya anak-anak nakal yang mengganggu anak lain.

Ilustrasi yang rata-rata mengisi lebih 50% halaman buku juga tak kalah menarik. Pembaca akan asyik mengamati gambar-gambar peralatan kelas yang jauh berbeda dengan zaman sekarang, gaya berpakaian orang-orangnya, dan banyaknya adegan-adegan lucu, seperti anak yang tak sengaja menumpahkan tinta. Oh ya, sebagian teksnya juga lucu, misal pada sidebar di hal 18, "PENGETAHUAN UMUM. Pada pelajaran ini, kamu belajar tentang hal-hal yang tak begitu penting. Misalnya, suara bebek tidak bergema, dan bintang laut tidak punya otak." (Ha ha ha....)

Kalau diperhatikan, judul asli dan subjudul asli buku ini berupa bentuk kalimat negatif. Biasanya anak-anak --kadang orang dewasa juga-- kalau diberitahu sesuatu tidak bagus atau jangan dilakukan, malah kepengen tahu. Entah mengapa terjemahannya berubah menjadi bentuk positif. Untung sama menariknya.

Pada sampul depan, ejaan yang dipakai adalah "Victoria", tapi di halaman judul serta halaman informasi penerbitan (kolofon) ejaan yang dipakai adalah "Viktoria". Mana yang benar? Terlepas dari kekurangan tadi, buku ini asyik dibolak-balik walau buat memandangi ilustrasinya saja. Tapi saya yakin pembaca kecil juga akan tertarik untuk membaca teksnya yang tak kalah seru. Buku-buku lain di seri "Maukah Kamu Jadi..." menceritakan kejadian sehari-hari orang biasa di suatu zaman sejarah, misalnya kehidupan seorang Viking, kehidupan seorang pekerja pembuat rel kereta api, dll.

Untuk melengkapi, seandainya saja ada penulis dan ilustrator Indonesia yang mau melakukan riset serta membuat buku macam ini tapi yang lebih dekat dengan sejarah Indonesia.

BOCAH-BOCAH DI PAGAR
Pengarang: Yuli Anita Bezari

Terbit: Bandung, DAR! Mizan, Februari 2007, 152 halaman
ISBN 978-979-752-658-0
Jenis: Novel anak

Salah satu tekanan pada anak sekolah adalah nilai pelajaran. Yang belum bagus dituntut memperbaiki, sedang yang sudah bagus diharapkan lebih bagus lagi, atau setidaknya mempertahankan. Kadang isu ini tidak terkait masalah hadiah atau hukuman dari orang tua, tapi yang lebih sering adalah pandangan-pandangan orang di sekeliling yang tanpa sadar memberi tekanan pada anak, misal sesama teman "Nilai ulangan kamu berapa? Aku seratus," atau dari guru, "Kok nilainya turun?" atau dari orang tua, "Kok sepuluh besar aja nggak masuk?" Kadang ada murid yang akhirnya cuek dan bersikap seadanya, ada juga yang berusaha dengan sekuat tenaga. Yang jadi masalah, kalau ia menghalalkan segala cara untuk mengejar nilai tersebut.

Kemala anak pintar yang selalu mendapat peringkat juara di kelas. Tapi ia tidak mau berbagi ilmu dengan teman karena takut disaingi. Ia juga memasang tembok kotak pensil di meja karena khawatir teman sebangkunya mencontek. Suatu hari ia menyembunyikan buku perpustakaan dan teman-temannya tidak bisa mengerjakan PR karangan, sedangkan ia mengerjakan karangan yang terbaik. Ketika teman-temannya tahu, mereka marah sehingga Kemala tidak diterima di kelompok manapun untuk tugas selanjutnya. Dalam kesendiriannya tersebut Kemala berinteraksi dengan tiga anak kecil di balik pagar rumahnya, dan akhirnya menyadari bahwa ilmu itu bukan untuk disimpan sendiri tapi untuk dibagi.

Ok, pesan ini disampaikan dengan cara yang bagus. Penulis menggunakan simbol kotak pensil yang ditegakkan antara Kemala dan teman sebangku sebagai "tembok" dalam diri Kemala. Ketika kotak pensil ini jatuh terhempas dan rusak, Kemala tidak marah pada teman yang telah menyenggolnya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Kemala sudah berubah di dalam. Yang saya rasa agak dipaksakan adalah objek fisik lain yaitu pohon mangga di halaman Kemala. Pohon ini selalu menggugurkan daun kering sepanjang waktu sehingga membuat jengkel Kemala, tapi ayahnya tidak mau menebang pohon itu. Kata Ayah, Kemala harus mencontoh pohon itu, dan sepanjang cerita Kemala menebak-nebak apa maksud ayahnya. Di samping analogi yang kurang pas, sepintas kesannya si tokoh Ayah jadi seperti tokoh misterius serba tahu yang tugasnya dalam cerita hanyalah memberikan ungkapan-ungkapan yang juga misterius. Entahlah, tapi in cuma pendapat pribadi.

Bab pertama berjudul Tembok Mini, sebanyak 3 lembar termasuk ilustrasi. Menurut saya harusnya bab itu dipangkas dan isinya diselipkan di bab selanjutnya, karena bab satu ini cuma penjelasan, penjelasan, dan penjelasan. Memang pengarang berupaya menulis dengan lincah, tapi khawatirnya ada pembaca kecil yang melihatnya sudah malas, padahal bagian selanjutnya menarik.

Tokoh Kemala mudah dipahami mengenai ambisinya ingin selalu mendapat nilai terbaik. Peresensi juga pernah waktu kecil harus mengajari orang dengan terpaksa, dan berlaku [agak] judes seperti Kemala. Cuma, separuh awal buku, saya masih ragu-ragu untuk menyukai tokoh ini. Seandainya ditunjukkan sedikit saja sesuatu yang bisa disukai dari Kemala, walaupun ia bersikap jahat dalam hal lain. Dan satu lagi, seandainya saja ada salah ilustrasi yang menunjukkan bentuk sayur yang harus dicari Kemala, yaitu bunga turi, gabah, daun dan biji melinjo (terutama bunga turi). Soalnya mungkin banyak pembaca seperti ibu Kemala yang tidak tahu bentuk bunga turi. Tapi peresensi yang satu ini kebanyakan permintaan. Ayo carikan buku ini untuk Anda sendiri atau untuk putra-putri Anda.

Sang Penyihir Beraksi

SANG PENYIHIR BERAKSI
Judul Asli: Wizard at Work
Penulis: Vivian Vande Velde
Penerjemah: Evi Sofiawati
Little Serambi, Cet 1, Desember 2006, Jakarta, 180 halaman
ISBN 979-1112-06-1
Rp 19.900,00

Satu-satunya karya Vivian Vande Velde yang pernah saya baca adalah buku fiksi remaja "Jangan Percaya pada Orang Mati" (judul asli: "Never Trust a Dead Man") yang diterbitkan Grasindo di tahun 2003. Buku itu menggabungkan unsur cerita fantasi dan detektif dengan apik. Cuma sayangnya dahulu sampulnya tidak menarik ditambah penerjemahannya yang kadang kurang mulus. Sekarang Little Serambi memutuskan untuk menerbitkan karya Velde yang lain, kali ini untuk pembaca yang lebih muda, "Sang Penyihir Beraksi", dan untungnya tidak ada masalah mengenai desain sampul ataupun penerjemahan.

Seorang penyihir muda bekerja sebagai pengajar di sekolah sihir. Ketika libur, sebenarnya ia hanyalah seorang yang ingin bersantai di pondoknya, memancing, dan berkebun. Tetapi orang-orang dari berbagai negeri datang mengganggunya untuk meminta bantuan. Ada putri yang minta dibebaskan dari kurungan ibu tiri dan saudara tiri kejam. Ada kota yang diganggu sekelompok kuda bercula satu (=unicorn?). Ada Pangeran ingin menyelamatkan putri yang diculik naga. Ada seorang bangsawan yang diganggu hantu. Dan ada Raja dan Ratu yang ingin putrinya cantik dan menarik. Di akhir cerita, sang Penyihir menemukan kejutan untuk dirinya sendiri.

Yang membuat buku ini menarik adalah unsur-unsur dongeng (barat) yang banyak dipelintir. Ada bagian yang menceritakan tentang putri cantik yang (katanya) dikurung oleh ibu tiri kejam dan saudara tiri buruk rupa, rupanya kejadian sebenarnya tidak begitu. Kemudian ada juga mengenai cermin yang suka mengumumkan siapa yang paling cantik, asal asul tiga biji kacang yang dimiliki Jack, dlsb.

Selain itu sang Penyihir --yang entah mengapa penulis tidak memberitahu pembaca namanya-- memiliki karakter yang lucu. Ia sangat sarkastik dan suka menghakimi orang lain terlalu dini. Di bagian awal, seorang ibu menegurnya karena sifatnya ini. Walaupun selalu bersedia membantu orang lain dan banyak akal, dalam hatinya ia menggerutu karena merasa dimanfaatkan. Mungkin ini bisa dimaklumi karena sebenarnya ia ingin istirahat, di samping orang-orang yang dibantunya tidak pernah menunjukkan rasa terima kasih. Berikut ini kutipan (hal 75-76) ketika sang Penyihir duduk di gudang dan melihat ke luar jendela bahwa ada tamu mendekat:
'Seorang pangeran, pikirnya, karena anak muda itu menunggang kuda. Rakyat jelata biasanya berjalan kaki. Saat anak muda itu mendekat, ia bisa melihat pakaiannya yang terbuat dari satin dan sutra. _Ya_, pikirnya, _seorang pangeran_. Saat si tamu semakin mendekat, ia bisa melihat wajahnya yang congkak dan penuh percaya diri. _Ya_, pikirnya, _pastilah seorang pangeran_.'

Buku ini lebih seperti kumpulan cerita pendek dibanding sebuah novel. Memang ada bab pembuka dan ada bab penutup, tapi benang merahnya tipis. Seandainya ada yang menyelipkan satu atau dua bab tambahan di tengah, pembaca tidak akan tahu. Begitu pula jika bab mengenai kuda bercula satu atau bab mengenai kastil berhantu dibuang, pembaca juga tidak akan tahu. Karena tiap cerita hampir utuh sendirinya, maka bisa dibaca per bab jika tidak punya banyak waktu.

Bacaan ini cocok untuk kamu yang suka cerita fantasi ringan yang dibumbui humor. Buku lain yang sejenis dalam hal bersinggungan dengan dongeng-dongeng dengan 'twist' tak terduga baru-baru ini adalah "The Sisters Grimm: Petualangan Detektif Dongeng" oleh Michael Buckley, penerbit Qanita. Salah satu bedanya, "Petualangan Detektif Dongeng" adalah novel [serial], sedangkan "Sang Penyihir Beraksi" lebih mirip kumpulan cerita.

HOZZO: FERRES YANG HILANG
I B G Wiraga
Ilustrasi oleh E Bendung W
Penerbit Liliput, Maret 2005, 506 hal
ISBN 979-38132-3-7
fiksi ilmiah/fantasi anak

Alan selalu merasa penasaran atas pengalaman-pengalaman aneh yang dialaminya belakangan ini. Bersama adiknya Chris, sepupunya Natta, dan beberapa orang temannya (Phil dan Sharon) dari kota Windfall, ia terseret dalam kejadian demi kejadian yang semakin membingungkan. Tapi ketika rahasia ayah Alan terbongkar, justru petualangan yang sebenarnya baru dimulai.

Alan dan teman-temannya diharuskan meninggalkan bumi. Selama ini pula mereka bertemu banyak teman baru (alien). Selanjutnya mereka memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok yang bernama Hozzo, dengan kegiatan pertama mencari Ferres -- salah seorang Pangeran Mahkota dari planet Hexes -- yang dikabarkan hilang.

Berbagai musibah terjadi beruntun, dan untungnya para anggota Hozzo selalu selamat. Akan tetapi mereka jadi yakin: Ada pihak tertentu yang mengincar nyawa mereka. Tapi siapa dan mengapa? Apakah oleh alien Seleorg yang selalu menguntit mereka dan terkenal pendendam? Ataukah ada hubungan dengan dua anak alien pengungsi yang bergabung dengan Hozzo tapi mengaku selalu membawa nasib malang? Atau ini berhubungan dengan Ferres yang hilang?
***

Dengan tebal sekitar 500 halaman, buku ini adalah fiksi anak berlatar luar angkasa yang seru. Sungguh menakjubkan membaca khayalan mengenai dunia-dunia lain, makhluk-makhluk aneh, serta teknologi-teknologinya. Walaupun demikian, deskripsi tersebut tidak membosankan karena diselingi dengan perkembangan cerita yang penuh petualangan mendebarkan. Selain itu banyak perkembangan cerita yang tidak terduga, tapi sebelum-sebelumnya kita sudah diberi banyak "clue" oleh penulis.

Kadang-kadang terlalu banyak istilah-istilah asing yang diselipkan di sana-sini dan membuat agak puyeng. Memang hal ini membuat kesan lebih detil, tapi untunglah selalu disertai penjelasan dan tanpa dihafal pun cerita dapat dimengerti.

Jika dilihat dari judul, Ferres yang Hilang, maka bagian cerita tentang Ferres ini baru dimulai/disinggung setelah masuk cukup jauh (> 100 halaman). Di awal-awal lebih banyak perkenalan tokoh serta latar belakang Allan, Chris, dll dan kejadian-kejadian yang menghantarkan mereka meninggalkan bumi. Tapi bagian awal ini pun banyak misteri, sehingga saya terus membalikkan halaman.

Novel ini memuat banyak sekali tokoh-tokoh, baik manusia, alien, bahkan robot yang berinteligensia (dan berkepribadian). Ada tokoh yang sudah hidup seperti Phil, Chris, Alan, dan satu dua yang lain. Tapi sayangnya, masih ada yang tidak jelas perannya dalam cerita apa, selain ikut rombongan Hozzo ke sini dan ke sana. Hmm, mungkin ini berpotensi untuk dikembangkan dalam cerita-cerita selanjutnya?



Harriet Si Mata-Mata
(Judul asli: Harriet the Spy)
Penulis: Louise Fitzhugh
Penerjemah: Sari Kusuma W.
Penerbit Little K, Februari 2006, 376 halaman, Rp.43.000,00

Harriet ingin menjadi mata-mata. Ia selalu membawa buku catatan untuk menuliskan hasil pengamatannya. Bahkan lebih jauh lagi, ia meluangkan waktu tiap hari untuk mengintip dan menguping kegiatan tetangga beserta teman-temannya. Semua kejadian dituangkan di dalam bukunya apa adanya.

Suatu hari buku tersebut jatuh ke tangan teman-teman Harriet. Mereka marah besar atas hal-hal menyakitkan hati yang ditulis Harriet mengenai mereka. Akhirnya Harriet dimusuhi teman-teman sekelasnya, bahkan kedua sahabat dekatnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Silakan dibaca.


Buku ini menampilkan penokohan anak yang bagus. Harriet, walaupun tidak selalu berlaku bagai 'malaikat', dapat selalu dipahami tindakannya. Hubungan Harriet dengan teman-teman sangat realistik, tanpa dibuat-dibuat. Orang-orang dewasa di sekitar Harriet (orang tua, pengasuh, guru-guru) juga digambarkan dengan wajar dan layaknya orang dewasa yang punya akal sehat, tetapi justru lewat buku ini kita 'mengintip' cara pandang anak terhadap tingkah laku para orang tua dan bagaimana usaha keras anak dalam memahami hal-hal di sekitar mereka. Terakhir, bagian yang paling saya sukai, buku ini ditaburi banyak kutipan dari buku catatan Harriet. Satu-satunya yang mengganggu adalah ilustrasinya yang menggambarkan Harriet berambut pendek (tidak sampai sebahu), padahal di halaman pertama bab satu disebutkan rambutnya panjang.

saya serin
MISI #22: TANTANGAN
Penulis: Yunita Candra Sari
Penerbit DAR! Mizan
Cet 1, November 2005, 172 hal, 17 cm
ISBN 979-752-283-0
Pemenang Harapan 2 Sayembara Novel Anak Islami 2005 DAR! Mizan.


Amel, Yuka, Gilang, dan Helmi tidak tahu mengapa Dani beserta dua temannya bersikap memusuhi sejak kelas lima. Oleh karena itu, Amel dkk memutuskan untuk menjaga jarak saja. Saat menginjak kelas 6, keempat sekawan ini memutuskan untuk melakukan misi penting terakhir kelompok mereka sebelum lulus SD. Ketika mereka mengetahui bahwa adik Helmi berkawan dengan adik Dani, maka malulah Helmi atas permusuhannya dengan Dani. Akhirnya diputuskan bahwa misi terakhir mereka, Misi # 22, yaitu mencari tahu penyebab sikap Dani, serta mencoba menjadikannya sebagai teman. Maka dimulailah masa-masa yang menguras kesabaran, demi mendekati Dani dan kedua temannya.

Salah satu kekuatan buku ini adalah penokohan yang jelas, padahal jumlah tokohnya lumayan banyak, di samping tema pertemanan dan permusuhan yang disampaikan dengan asyik. Selain itu pengaturan kecepatan (pacing) serta pengembangan konflik bagus, yang dimulai dari penggambaran sikap sehari-hari Dani dkk., kemudian ketika memutuskan misi #22 ada pertentangan batin bahwa mereka tidak akan sanggup/tidak ada gunanya, dilanjutkan dengan hambatan-hambatan saat mendekati Dani, sampai kekacauan besar yang terjadi. Mungkin yang terasa kurang sreg yaitu ending masih kurang jelas/kurang meyakinkan apakah para anak-anak benar-benar berhasil lolos dari kejaran Bang Yosep. Seharusnya dibuat lebih jelas lagi. Kalau memang dimaksudkan begitu adanya karena dianggap bukan permasalahan utama (permusuhan dengan Dani), tetap agak kurang adil bagi pembaca yang sudah tegang-tegangnya mengikuti elemen Bang Yosep yang lumayan banyak (2 bab terakhir) dan termasuk bagian klimaks cerita.


OLA, SI KANTONG KRESEK
Penulis: Hikmat Sudjana
Ilustrator: Dyotami
Penerbit DAR! Mizan
Cet 1, Januari 2006, 92 hal, 17 cm
ISBN 979-752-330-6

Ola adalah anak periang, berani, dan pantang menyerah. Salah satu keunikannya adalah kesukaannya memakai kantong kresek sebagai pengganti tas sekolah, oleh karena itu ia dijuluki Si Kantong Kresek. Ketika Asih (teman Ola) dan keluarganya diusir keluar dari kontrakan mereka karena belum membayar sewa, Ola ikut prihatin atas nasib mereka dan dengan cara yang merupakan khas kepribadiannya mencoba membantu mereka. Dan ketika usaha pertamanya gagal, dan Asih beserta keluarganya benar-benar harus pergi, Ola begitu sedih dan tidak mau menerima itu terjadi. Apa yang selanjutnya dilakukan Ola?

Cerita ini walau pendek dan ditulis dengan ringan, menyentuh perasaan karena segala yang dilakukan Ola begitu polos dan berasal dari hatinya. Empatinya pada sesama tak diucapkan dengan kata-kata, tapi langsung ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan (tentu dalam cerita ini masih hal-hal yang sesuai dengan logika anak-anak pula). Sifat seperti inilah yang perlu lebih digali dari masyarakat zaman sekarang, baik anak-anak maupun dewasa. Saya membayangkan, harusnya para orang tua di desa Ola malu semua, karena ketika mereka sudah menyerah, Ola yang kemampuannya masih kecil adalah satu-satunya orang yang masih tergerak untuk terus berusaha walau dengan cara yang (tampaknya) remeh temeh. Untunglah semua berakhir bahagia. Apakah karena ini cerita fiksi?


RAMALAN MBAH JAMBRONG
(Kumpulan Cerita Anak)
Penulis: Benny Rhamdani
Ilustrator: Nonoy
Penerbit DAR! Mizan
Cet 1, November 2005, 92 hal, 17 cm
ISBN 979-752-316-0

Buku ini berisi sebelas cerita pendek anak dengan latar sehari-hari di baik di rumah maupun di sekolah. Walaupun berlatar sehari-hari, cerita-cerita di buku ini tetap menarik dan membikin kagum bahwa hal-hal yang sederhana dapat dijadikan cerita bagus.

Cerita yang menjadi judul depan buku "Ramalan Mbah Jambrong" menceritakan tentang Karin yang kesal karena Danu adiknya bertingkah seenaknya setelah diramal oleh Mbah Jombrang. Atas usul temannya, Karin mengajak ibu dan adiknya untuk bertemu Mbah Jombrang untuk diramal kembali. Bagaimana hasil ramalannya? Dan berubahkan sikap Danu?

Cerita-cerita lain yang bertema tentang kepercayaan atas hal-hal tahyul dan sejenisnya yaitu "Pigura Pecah" dan "Peri Gigi". Selain itu juga ada cerita tentang ketidaksukaan yang tidak berdasar/tidak adil pada seseorang ("Adikku Hans", "Karena Mas Lato", "Gembala Itik", "Ayahku Seorang ..."). Ada juga cerita tentang mengharapkan imbalan dari berbuat baik ("Pamrih"), pertemanan dengan teman sekolah ("Rumahku di Gang", "Pemilas", "Ayahku Seorang ...", "Pendekar Tempe"). Favorit saya sukai adalah cerpen terakhir, "Gembala Itik".


TEKA-TEKI ANGKA EMPAT
(Kumpulan Cerita Anak Matematika)
Penulis: Janu Ismadi, S.Pd
Ilustrator: Mantox
Penerbit DAR! Mizan
Cet 1, Maret 2006, 112 hal, 17 cm
ISBN 979-752-350-0


Buku ini berisi enam cerita pendek yang menampilkan tokoh Pak Cerdas Barus yang gemar matematika serta kedua anaknya Kevin Tara dan Cendi Kia yang sama-sama cerdas serta menggemari matematika. Guru matematika Kevin Tara bahkan sering dibuat salah tingkah karena kesalahannya ditunjukkan oleh Kevin. :)

Buku seperti ini tergolong unik, karena menggabungkan matematika dengan cerita pendek. Muatan matematika yang diselipkan dalam cerita lebih berupa keajaiban-keajaiban serta aplikasi menarik dari matematika itu sendiri. Jadi pembaca tidak dituntut untuk memahami penjelasannya (bahkan tidak semuanya diberikan penjelasannya), tapi lebih kepada agar kita tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut. Buku ini akan menggugurkan cap bahwa matematika itu ilmu kering yang tidak menarik dan rumit, karena disampaikan dalam bentuk cerita tanpa memuat bahasa maupun istilah matematika yang sulit.

Daftar cerita:
(1) Teka-teki Angka Empat (bermain-main dengan operasi pada angka empat untuk mendapatkan angka lain).
(2) Kartu Penebak Umur (penggunaan angka basis dua pada kartu penebak umur)
(3) Dua Kesalahan Satu Kebenaran (persamaan peubah banyak dalam permainan kata-kata)
(4) Kevin Tara Dilawan!, dan (5) Cendi Kia yang Hebat
(rumus-rumus perkalian dengan jalan pintas)
(6) Warisan Pythagoras (cerita tentang penggunaan rumus pythagoras dengan setting zamannya Pak Pythagoras sendiri)


NEGERI AWAN MERAH

Penulis: Fahri Asiza
Ilustrator: Telia
Penerbit Beranda Hikmah
Cet 1, September 2005, vii+188 hal, 20 cm, Rp.24.500,00
ISBN 979-3714-58-1

Kalau dilihat dari biodata penulis di halaman belakang, nampaknya ini adalah buku pertama fantasi anak dari Fahri Asiza. Buku-buku sebelumnya diantaranya adalah beberapa serial remaja (Serial Syakila, Serial Ray, dll), Serial Dayak (DAR! Mizan) untuk anak, dan beberapa novel anak lepas Rinduku Padamu Ibu, Bunga-Bunga Kertas, Mencari Ajeng, dan Kita Semua Anak Negeri Ini (GIP, 2004), Menangkap Hantu dan Melacak Jejak Pencuri (Zikrul Hakim, 2004).


Fahira kesal karena ditegur ibunya jangan ngambek atas hal sepele. Lalu ia memutuskan untuk bersembunyi di dalam gudang di belakang rumah. Rupanya, gudang itu membawanya masuk ke negeri Awan Merah, negeri di mana langitnya berwarna kuning dan awannya berwarna merah. Negeri ini dikuasai oleh seorang makhluk jahat bernama Gronthos. Gronthos mempunyai banyak anak buah yang sama kejamnya.

Selanjutnya Fahira berjumpa dengan Putri Shafira, dan akhirnya mengetahui sejarah negeri itu. Ketika Putri meminta tolong Fahira untuk menaklukkan Gronthos, apa yang akan dilakukannya?


Novel ini penuh dengan hal-hal ajaib, diantaranya hewan-hewan yang bisa berbicara, makhluk separuh manusia separuh rusa, baju ajaib, bahkan karpet terbang. Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Fahira beberapa kali mengelabui dan akhirnya mengalahkan para tokoh jahat dengan mengandalkan kecerdikan otaknya (hal 80-83 dan 160-164), di mana Gronthos justru mengandalkan kekuatan fisik. Sayangnya, kekuatan Gronthos ini juga membawa pada hal yang kurang saya sukai, yaitu terlalu banyak kematian yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk menunjukkan betapa jahatnya si Gronthos. Tapi untuk buku anak seharusnya bisa lebih disiasati lagi.

Membaca buku ini mungkin akan membuat teringat buku-buku yang lain yang pernah dibaca sebelumnya. Memang plotnya mengikuti salah satu contoh plot dasar cerita fantasi yang sudah teruji puluhan tahun: "Si tokoh (atau beberapa tokoh) masuk ke dunia 'lain' di mana ia mengalahkan penguasa jahat (atau yang tidak berhak atas tahtanya)". Beberapa yang selintas termasuk cerita ini adalah "Mio Anakku" (Astrid Lindgren), "The Lion, the Witch, and the Wardrobe" (C. S. Lewis), "The Wizard of Oz" (Baum), "Kampung Cahaya" (Imam R.) dan "Pinissi" (?)(Mama Piyo). Tentu saja, siapa pun berhak memakai ide ini, baik sengaja maupun tidak, tapi yang membuat sebuah buku terasa beda tentu adalah kemampuan si pengarang mengembangkan detil cerita, apa yang menjadi tema dan fokus cerita, serta gaya penuturan pengarang.


Sang Pelukis Senyum
Penulis: Yuli Anita Bezari
Penerbit DAR! Mizan, November 2005, 156 halaman, Rp.18.000,00

Ayung sewaktu masih di desa pandai melukis. Tapi, setelah pindah sekolah ke kota, ia rupanya sadar bahwa ia tidak bisa menggambar orang-orang tanpa senyum. Orang-orang di desa selalu berwajah damai dan bahagia, tidak seperti orang-orang di kota. Brons dan Silver, dua orang temannya yang merasa tersaingi atas kemampuan Ayung, menantang Ayung untuk menggambar orang-orang yang tidak pernah tersenyum. Berbagai upaya dicoba Ayung dan teman-temannya, termasuk menyenangkan hati seorang anak jalanan yang harus di gambar Ayung. Sanggupkah Ayung? Baca!

Cerita ini manis, lucu, sekaligus mengharukan, terutama saat-saat Ayung berupaya menyelesaikan tantangan Brons dan Silver satu-persatu. Endingnya juga membuat saya tertawa. Satu hal yang agak aneh yaitu sebagian besar nama tokoh-tokoh anaknya berhubungan dengan warna (Lembayung/Ayung, Nila, Jingga, Gading, Brons, Silver).


Misteri di Gunung Teulabonari
(Judul asli: Time Stops for No Mouse)
Penulis: Michael Hoeye
Penerjemah: Danny Raharto, Rahmani Astuti
Penerbit MLC, Januari 2006, 284 halaman, Rp.34.000,00

Hermux Tantamoq adalah seorang tukang jam (tikus) yang hidup dengan tenang. Suatu hari, ia diminta untuk memperbaiki jam milik seorang petualang, Linka Perflinger. Ketika Linka tidak datang kembali untuk mengambil jamnya, Hermux merasa ada sesuatu yang terjadi pada Linka, dan memutuskan untuk menyelidikinya. Tanpa terduga, rupanya ia malah terlibat dalam petualangan yang berbahaya.

Alur buku ini cepat sekali, penuh dengan aksi dan ketegangan, bisa dikatakan ini buku "thriller" untuk anak-anak. Bab yang pendek-pendek membuat buku mudah dibaca. Satu-satunya protes saya adalah kovernya yang mirip kover buku non-fiksi. Sepintas lewat, judulnya bisa saja "Manajemen Waktu" karena gambar jam besar yang ada di depan.

NB. Buku kedua dari seri Hermux ini sudah terbit.

The Thief Lord

The Thief Lord
(Judul asli: Herr der Diebe)
Penulis: Cornelia Funke

Sekarang terjemahan Indonesianya buku ini sudah diterbitkan oleh penerbit Gramedia dengan judul "Pangeran Pencuri", cukup tebal, dengan harga sekitar 50 ribu rupiah.


Prosper dan Bo adalah dua bersaudara yatim piatu yang melarikan diri ke Venesia dari tante mereka yang kejam. Di Venisia, mereka bergabung dengan sekolompok anak-anak jalanan. Mereka dilindungi dan diberi makan oleh seorang anak misterius yang menamakan dirinya "Pangeran Pencuri". Selanjutnya mereka mengalami petualangan seru di jalan-jalan/kanal-kanal Venesia.


Buku ini adalah salah satu buku yang saya inginkan seandainya saya baca waktu masih anak-anak. Tokoh-tokohnya banyak dan berwarna-warni, alurnya penuh dengan misteri dari awal sampai akhir. Selain itu setting Venisia-nya membuat cerita ini bersuasana fantastis (di bagian setengah akhir, nanti ketahuan bahwa ada unsur fantasinya, sedikit). Orang dewasa yang membacanya pun akan terpesona. Salah satu tema yang diangkat dengan menarik dalam buku ini yaitu: bahwa anak-anak pada umumnya tidak sabar ingin cepat dewasa, tapi orang-orang dewasa kebalikannya, mereka ingin mengulang kembali masa anak-anak.

Newer Posts Older Posts Home