HOZZO: FERRES YANG HILANG
I B G Wiraga
Ilustrasi oleh E Bendung W
Penerbit Liliput, Maret 2005, 506 hal
ISBN 979-38132-3-7
fiksi ilmiah/fantasi anak
Alan selalu merasa penasaran atas pengalaman-pengalaman aneh yang dialaminya belakangan ini. Bersama adiknya Chris, sepupunya Natta, dan beberapa orang temannya (Phil dan Sharon) dari kota Windfall, ia terseret dalam kejadian demi kejadian yang semakin membingungkan. Tapi ketika rahasia ayah Alan terbongkar, justru petualangan yang sebenarnya baru dimulai.
Alan dan teman-temannya diharuskan meninggalkan bumi. Selama ini pula mereka bertemu banyak teman baru (alien). Selanjutnya mereka memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok yang bernama Hozzo, dengan kegiatan pertama mencari Ferres -- salah seorang Pangeran Mahkota dari planet Hexes -- yang dikabarkan hilang.
Berbagai musibah terjadi beruntun, dan untungnya para anggota Hozzo selalu selamat. Akan tetapi mereka jadi yakin: Ada pihak tertentu yang mengincar nyawa mereka. Tapi siapa dan mengapa? Apakah oleh alien Seleorg yang selalu menguntit mereka dan terkenal pendendam? Ataukah ada hubungan dengan dua anak alien pengungsi yang bergabung dengan Hozzo tapi mengaku selalu membawa nasib malang? Atau ini berhubungan dengan Ferres yang hilang?
***
Dengan tebal sekitar 500 halaman, buku ini adalah fiksi anak berlatar luar angkasa yang seru. Sungguh menakjubkan membaca khayalan mengenai dunia-dunia lain, makhluk-makhluk aneh, serta teknologi-teknologinya. Walaupun demikian, deskripsi tersebut tidak membosankan karena diselingi dengan perkembangan cerita yang penuh petualangan mendebarkan. Selain itu banyak perkembangan cerita yang tidak terduga, tapi sebelum-sebelumnya kita sudah diberi banyak "clue" oleh penulis.
Kadang-kadang terlalu banyak istilah-istilah asing yang diselipkan di sana-sini dan membuat agak puyeng. Memang hal ini membuat kesan lebih detil, tapi untunglah selalu disertai penjelasan dan tanpa dihafal pun cerita dapat dimengerti.
Jika dilihat dari judul, Ferres yang Hilang, maka bagian cerita tentang Ferres ini baru dimulai/disinggung setelah masuk cukup jauh (> 100 halaman). Di awal-awal lebih banyak perkenalan tokoh serta latar belakang Allan, Chris, dll dan kejadian-kejadian yang menghantarkan mereka meninggalkan bumi. Tapi bagian awal ini pun banyak misteri, sehingga saya terus membalikkan halaman.
Novel ini memuat banyak sekali tokoh-tokoh, baik manusia, alien, bahkan robot yang berinteligensia (dan berkepribadian). Ada tokoh yang sudah hidup seperti Phil, Chris, Alan, dan satu dua yang lain. Tapi sayangnya, masih ada yang tidak jelas perannya dalam cerita apa, selain ikut rombongan Hozzo ke sini dan ke sana. Hmm, mungkin ini berpotensi untuk dikembangkan dalam cerita-cerita selanjutnya?
SARANG KALAJENGKING
(Judul asli: The House of the Scorpion)
Penulis: Nancy Farmer
Penerbit: Matahati, 2005
Genre: fiksi ilmiah
(Newbery Honor 2003, National Book Award)
Ringkasan cerita:
Di suatu zaman futuristik, kloning manusia adalah hal yang sudah biasa dilakukan. Aturannya adalah otak si klon harus dihancurkan (jadi layaknya binatang, tidak bisa berpikir). Matt (tokoh utama) adalah klon dari El Patron (seorang diktator di negara feudal Opium yang terletak antara Aztlan/Meksiko dan AS). Akan tetapi, tidak seperti klon lainnya, otak Matt tidak dihancurkan. Ini merupakan kehendak El Patron sendiri yang mempunyai kekuasaan besar. Di negara Opium pula, praktik menanamkan chip ke dalam otak (agar menjadi budak patuh yang tidak berpikir) berlaku, dan sering dilakukan pada orang-orang membangkang, serta imigran gelap yang tertangkap melewati perbatasan AS/Aztlan. Budak-budak ini dipekerjakan di perkebunan opium milik El Patron.
Matt kecil mengalami hidup yang kurang mengenakkan. Di masa kecilnya, ia diasingkan. Dan ketika diijinkan tinggal di rumah besar keluarga El Patron, semua keluarga El Patron membencinya dan tidak segan-segan menunjukkannya, bahkan kadang di depan El Patron sendiri. Matt harus menghadapi itu semua, dibarengi usahanya untuk memahami keberadaan dirinya dan tujuan El Patron membuatnya sebagai klon: apakah Matt ditakdirkan sebagai pewaris El Patron? atau El Patron ada rencana yang lain yang mengerikan.
Ketika El Patron meninggal, dan Matt menyadari apa yang akan terjadi ia berhasil melarikan diri dari Rumah Besar El Patron, kemudian lolos dari negara Opium ke Aztlan (dalam beberapa bab yang cukup menegangkan). Tapi rupanya ini hanyalah keselamatan yang semu. Ia keluar mulut singa masuk ke mulut buaya. Di Aztlan ia mengalami nasib yang hampir sama buruknya (diperbudak secara terselubung).
Komentar:
Ada buku yang jalan ceritanya heboh dengan alur cepat tapi isinya sekedar menghibur, bikin tegang/ketawa/senyum, lalu begitu selesai dilupakan. Sebaliknya ada juga yang nyastra sekali, isinya dalam, dan bertingkat-tingkat makna tapi dari segi cerita biasa-biasa saja, malah cenderung membosankan bagi pembaca awam (biasanya buku2 yang memenangkan penghargaan sastra). Nah, buku ini kuat dalam kedua hal, baik jalan cerita maupun isi (pesan). Dari awal sampai akhir selama membaca saya tidak bisa menduga, mau ke mana nanti ceritanya. Setidaknya penulis berhasil menjaga perhatian pembaca, tidak pernah berpanjang-panjang dalam hal yang tidak penting/membosankan, walaupun buku ini tergolong tebal.
Ceritanya seru, dan karena ini science fiction, sambil membaca kita juga disibukkan mencari tahu apa perbedaan dan persamaan dunia di buku dengan dunia sekarang. Di samping cerita yang menarik, sebagian isinya juga menyentuh perasaan dan nilai-nilai perenungan yang disampaikan sangat kuat (tanpa menggurui sama sekali), seperti ditulis di depan bukunya "persahabatan, pertahanan hidup" ataupun hal-hal yang lebih besar seperti makna kehidupan, kerusakan lingkungan, sistem masyarakat, dll. Tapi justru saya terkesan bahwa walau gen berperan mempengaruhi sifatmu, tapi justru ada hal lain yang juga penting, yaitu kemauan dari dalam diri, dan lingkungan.
Penulis bisa membuat tokoh utama Matt membuat pembaca berempati dan mendukungnya, walau dia tidak sempurna dan beberapa kali berlaku bodoh.
Label: fantasy, resensi, sf, translation

MONSTER PEMAKAN TEMBOK (DONGENG ANET #1)
Penulis: YF. Sarbini
Penerbit: Sangga Buana, Agustus 2005, vi + 86 hal
Genre: fiksi ilmiah/fantasi
ISBN: 979-99898-0-9
Dari sampul buku:
Diandra suka sekali menonton film kartun yang menceritakan makhluk-makhluk aneh yang lucu. Dia selalu mengkhayal bisa memiliki salah satu makhluk itu dan berpetualang bersamanya.
Hingga pada suatu hari, khayalannya menjadi kenyataan. Bersama teman-temannya, ia menemukan sebutir telur aneh di rumah kosong milik seorang ilmuwan gila yang konon sudah ditangkap polisi dan mati dipenjara. Dari telur itu keluar makhluk aneh dan lucu berwarna pink, yang langsung saja dijadikan hewan peliharaan oleh Diandra.
Semula makhluk itu memang tidak menimbulkan masalah apapun, hingga akhirnya ia beranak-pinak dan turunannya itu menjelma menjadi makhluk buruk rupa berbulu coklat kasar yang menimbulkan teror seluruh kota...
Komentar saya:
Membaca adegan-adegan aksi dalam buku ini serasa menonton film-film monster/alien yang menyerang kota, lengkap sampai bagian penutup yang menceritakan bahwa ada satu buah telur yang tertinggal tanpa diketahui seorang pun. Tapi semuanya terasa pas-pas saja, karena justru cerita ini ibarat menyindir si tokoh Diandra yang memang suka sekali menonton acara jenis itu, sehingga ketika ia dihadapkan pada situasi seperti itu di kehidupan nyata, rupanya malah penuh bahaya dan tidak mengasyikkan.
Yang paling saya sukai tentu saja monster imuuut yang pink. Seandainya ada yang tidak beranak-pinak dan tidak tumbuh jelek, saya juga mau pelihara satu!
Ada karakter tiga anak lain temannya Diandra, ditambah seekor kakatua, tapi dalam cerita ini lebih ditonjolkan Diandra, mungkin yang lain di buku lain, karena dari kata pengatar akan ada buku lain dari serial ini.
Miranda: Jangan Ambil Nyawaku (Cloning Miranda)
Carol Matas
Kaifa, Oktober 2003,196 halaman
Buku ini tidak terlalu baru, tapi saya termasuk suka dengan isinya. Meskipun ditujukan buat remaja, buku ini mengangkat hubungan anak dengan orang tua, dan layak juga untuk konsumsi anak-anak, terutama yang pra-remaja.
Bagaimana rasanya jadi anak sempurna? Cerdas, cantik, sehat, pandai menari, kaya pula. Itulah Miranda. Ia anak sangat penurut, dan selalu berakal sehat. Sikapnya yang dewasa dan tidak pernah membantah membuat orang tuanya bangga padanya. Menjelang remaja, keadaannya ini membuat Miranda sendiri heran. Ia mulai menganggap dirinya aneh, karena tidak seperti anak lainnya.
Suatu hari, pandangan matanya kabur. Dokter menvonisnya menderita penyakit langka. Padahal ia belum pernah sakit sebelumnya. Ayah-ibunya bukan hanya kalang kabut, tapi mulai bertingkah aneh, seperti menutup-nutupi keadaan Miranda, menyembunyikan foto-foto, dan yang paling utama adalah berbohong. Setahu Miranda, mereka selalu terbuka apa adanya, tapi sekarang?
Dia akhir cerita Miranda mengetahui mereka rupanya berbohong SANGAT besar mengenai kehidupannya. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa selama ini ayah-ibunya "menyihirkan" suatu kehidupan sempurna untuknya. Mengapa ia begitu pandai, sehat, baik, tidak ada kekuarangan apapun sebelumnya, rupanya ada penyebabnya. Dan rahasia itu terbongkar dengan menyakitkan, karena cara yang mereka tempuh salah.
Beberapa bagian buku ini cukup mencekam. Tahukan kalau misalnya saat baca buku misteri/nonton film, si tokoh utama dengan akalnya harus berjuang melewati "musuh", dan kita harap-harap cemas mendukungnya hanya dapat menonton? Nah rasanya seperti itu. Musuh/antagonis di sini adalah sang orang tua yang melakukan segala cara untuk menghalang-halangi Miranda menemukan kebenaran. Bagi saya, penulis berhasil menggiring rasa penasaran pembaca, sekaligus rasa haru.
Di buku ini ada: teman setia, ilmuwan "gila", klinik misterius, dan seperti judulnya, ada kloning. Kloning manusia. Saya tidak mau bilang hubungannya dengan kloning di mana. Silakan dibaca sendiri. Semua itu diramu bersama konflik dengan orang tua menjadi buku yang unik. Endingnya pun, walaupun bukan 100% baik-baik saja, menurut saya paling memuaskan. Yang jelas saya tidak bisa memikirkan yang lebih baik.
Unsur medis, meski unsur yang cukup penting, tidak menjadikan buku ini berat dibaca. Penjelasan tidak ribet-ribet, makanya pembaca awam pun bisa mengerti. Tentang kloning manusia, penulis membawakan tema yang kontroversial ini dengan netral. Pada keseluruhan memang tersirat bahwa (secara duniawi) kloning tidak seindah yang kelihatan di mata, masih banyak kelemahan-kelemahan teknologi ini. Tapi ini terserah pembaca, mau berpikiran apa karena yang jadi sorotan dalam buku ini adalah, orang tua yang atas nama cinta jadi berpikiran sempit.
Label: fantasy, resensi, sf, translation
